Review Materi Sharing “Menulis dari Hati”

Review Materi Sharing “Menulis dari Hati”

Minggu 12 april 2020

Pekan ini saya kembali mendapat sharing dari grup OMP kali ini pembicaranya adalah seorang penulis home educator dan owner penerbit buku langka yaitu teh ina nurhidayah yang juga istri dari trainer sebelumnya yaitu kang muvti bisa dibilang couple trainer dan couple writer sama2 trainer dan penulis

Berikut review materi yang saya dapatkan selama mengikuti kelasnya  

  1. Prolog membuka paradigma dan wawasan

Seperti apakah yang di sebut menilis dengan hati?

Sebelumnya teh ina memberikan prolog analogi tentang bagaimana menulis dengan hati itu? Berikut  salah satu statementnya “Jangan menulis tentang nikmatnya cita rasa kopi, jika kamu bahkan tak suka meminumnya” teh ina pun menambahkan jika kamu lebih suka nonton Kartun dari pada nonton berita, dan membaca Koran tentunya kamu gak perlu menulis tentang politik dan pemerintah. Menurut penelitian beliau ditemukan beberapa penulis chanel atau blog memiliki mindset bahwa, “I have to give a good reading in front of public.”  Sehingga yang berusaha mereka tuliskan adalah hal-hal bagus yang diinginkan oleh khalayak. Bukan berasal dari keinginan pribadi untuk menanggapi sesuatu yang menggelitik diri. Malahan nanti jatuhnya, tulisan yang mereka buat bukan menghasilkan tulisan yang bagus, tapi tulisan yg dibagus-baguskan” papar teh ina.

  1. Arti Tulisan yang sesungguhnya dan Seasli-Aslinya

Menurut beliau Tulisan asli adalah tulisan yang menuangkan segala pemikiran yang ada di kepalanya ke dalam media tulisan. Itu berarti, menulis betul-betul berasal dari pengetahuan ada di isi kepala kita saja. Jadi kunci tulisan dengan hati adalah tulisan  yang berasal dari hal-hal yang kita ketahui, tanpa perlu ada pikiran untuk menuliskan sesuatu permasalahan yang diluar pengetahuan kita. Tulisan seseorang bisa ditentukan dari berapa umur yang ia punya, problem apa yang ia hadapi, dan sesuatu apa yang ingin ia capai. Semua menggambarkan proses kedewasaan sang penulis.

Menurut pandangan teh ina pula, proses menulis adalah proses mengamati suatu masalah; observasi suatu kondisi; dan atau memainkan sebuah imajinasi. Kemudian pemikiran-pemikiran itu ditarik keluar dari kepala, dikumpulkan di satu wadah yang sama, diberi kaca pembesar, dan akhirnya dituliskan berdasarkan perspektif kita sendiri.

Lalu ketika tulisan itu disampaikan ke khalayak, kadang-kadang di antara pembaca, baru akan mengetahui bahwa ternyata banyak hal yang mereka lewati, selama ini ia gak perduli untuk mengerti, dan akhirnya mereka sadar untuk melihat masalah lebih dalam lagi. Hingga ia akan mendapatkan momen, “Wiiih, iya juga yah”, “Ohh, begitu toh ternyata”, “Naaah, bener kan yg aku rasain.”

  1. Langkah Memulai Tulisan Asli yang Melibatkan Hati

“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yg kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”

Karena begini, teman-teman: ketika kita menulis tentang sesuatu yang tidak betul-betul berasal dari hati, maka orang-orang yang akan membacanya juga takkan merasakan hati dari tulisan itu. Sebab menulis dengan ikhlas itu sangat perlu.

“Proses Menulis adalah berbagi rasa lewat abjad, dan menyentuh hati lewat kata.”

Ibarat lantunan sebuah nasyid yg dinyanyikan dengan datar-datar saja, tanpa sebuah penghayatan juga tanpa dihadikannya perasaan, maka orang-orang yang mendengarnya juga bisa dipastikan tidak dapat tersentuh hatinya. bagaimana orang mau menghayati dengan perasaan, jika nyatanya yang melantunkannya juga tidak melibatkan perasaannya.

Maka menulis dengan hati yang ikhlas itu penting. Kenapa? Karena jika semua anggota tubuh kita berbohong, hanya satu yang akan tetap jujur. Yaitu:  HATI.

Bukankah hati sebaiknya disuarakan untuk kita mengerti apa yang kita gelisahkan? kalau sudah berhubungan dengan hati, kamu takkan bisa memaksanya menuliskan sesuatu di luar dari keresahannya.

Maka dampak paling besar dari proses kita menulis akan berimbas Bukan kepada orang lain, melainan kita sendiri.

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yg paling mungkin dilakukan oleh manusia.”

Dengan menulis, kita jadi punya mesin waktu pribadi, dan punya buku komedi sendiri. buktinya? Coba saja anda perhatikan tulisan masa lalu di buku diary yang kita punya!

memang banyak orang yang bertanya tentang bagaimana menuangkan ide-ide yg ada di kepala ke dalam sebuah tulisan. Jawabannya sederhana, “Mulai menulis saja.” Tak peduli seberapa kacau susunan bahasamu, seberapa rancu diksimu, yang terpenting mulailah dulu. Bukankah untuk telaten, orang harus mulai latihan.

Lalu Apakah manfaat menulis hanya untuk di masa depan? Orang yang baru memulai berarti belum bisa mendapatkan manfaatnya saat ini, karena belum ada tulisan di masa lalu? Justru saat ini manfaatnya sedang melimpah-limpahnya. Salah satunya, kita akan memahami bahwa untuk mengabadikan isi kepala, maka menulislah.

Nah, ketika kita memiliki sebuah keresahan misalnya. Kemudian keresahan itu dituliskan. Sebenarnya kita sudah mengeluarkan satu wujud lain dari diri kita. Sehingga kita bagaikan telah berhadapan langsung dengan refleksi kita sendiri. Maka inilah kesempatan kita tuk membedahnya.

Lihatlah dengan teliti, bagian mana dari wujud itu yang meresahkanmu, apa yang perlu kau ubah, kau ganti, kau tambahi, atau kau kau kurangi. Sehingga nantinya kita akan berhasil mengoperasi satu wujud dari refleksi diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Sebab sejatinya, menulis adalah cerminan diri sekaligus proses membaca diri.

  1. Kesimpulan

Menurut teh ina buat apa kita menghabiskan waktu untuk memikirkan tulisan apa yang ingin orang lain lihat? Toh nanti dampak positifnya lebih pada kita sendiri juga. Sebab sekali lagi, menulis adalah wadah yang sangat baik untuk kita bisa intropeksi, mendewasakan diri, dan berkenalan lebih jauh lagi dengan diri sendiri. Untuk kita lebih peka dengan keadaan sekitar, terlebih dengan perasaan orang lain, dan tentunya dengan perasaan kita sendiri.

Tambahan sisipan statement dari sang suami sekaligus pelatih teh ina yaitu kang muvti,

“Orang boleh pandai setinggi langit, ahli dibisnis, banyak karya kebermanfaatan hidupnya tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Jadi, jika menulis adalah cara mudah mengabadikan diri dan cara asyik untuk membuat jejak rekam pribadi, kenapa kita tidak memulai? Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi? Kalau bukan saat ini, kapan lagi? niatkan untuk ibadah dan kebermanfaatan.

Materi by : Ina Nurhidayah

Demikian paparan dan ulasan materi “menulis dengan hati” yang saya dapatkan selama mengikuti kelasa di Grup OMP semoga bisa bermanfaat buat siapa saja yang ingin memulai menulis

Salam Hangat

Sali Saputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Ada yang bisa di bantu?