Pendidikan Seksualitas Day 3

ISU MENARIK BERKAITAN GENDER

Alhamdulilah di tantangan zona 7 yang memasuki hari ke3 ini masih meresume hasil kerja kelompok di bandung 2 dengan topik Pemahaman Perbedaan Gender pada topik ini di bagi kembali menjadi beberapa subtopik salah satu diantaranya mengenai isu menarik berkaitan gender dengan pointer sebagai berikut:

LGBT

LGBT menjadi isu krusial yang menjadi tantangan besar bagi orang tua generasi Z dan generasi Alfa. Namun ada baiknya kita mengupas tuntas apa sih sebenarnya yang menjadi latar belakang terjadinya penyimpangan orientasi seksual tersebut?

Menurut pakar psikologi anak ibu Elly Risman sekiranya ada beberapa hal yang menyebabkan anak memiliki kecenderungan orientasi tersebut.

1. Moms dan Dads yang Acuh Tak Acuh

Orang tua yang acuh terhadap anak menyebabkan anak mengalami BMM lemah dalam Berfikir, Memilih, dan Mengambil keputusan.

2. Hilangnya Peran Dads

Menurut beberapa penelitian atas kurangnya peran ayah terhadap anak, ini menyebabkan anak laki-laki menjadi nakal, agresif, terlibat narkoba, dan pada ujungnya bisa terperangkap dalam seks bebas.

3. Anak Lelaki Terlalu Banyak Berinteraksi dengan Moms

4. Anak Perempuan Kurang Kasih Sayang Dads

Sementara pada anak perempuan juga bisa berdampak pada depresi.

5. Kurang Pemahaman AGAMA

6. Terlalu Bebas Menggunakan GADGET

7. Anak Terpapar PORNOGRAFI

Sumber: Oleh: R. Neneng Rina, pompana.com, sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Isu perkawinan anak menjadi sangat penting dalam hal kesetaraan gender

kesetaraan antara perempuan dan lelaki tersebut perlu dibangun mulai dari keluarga. Isu perkawinan anak menjadi sangat penting dalam hal kesetaraan karena banyak yang menganggap anak perempuan hanya sebagai aset dan tidak mempunyai kontrol atas dirinya sendiri.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan 2045 sebagai Tahun Indonesia Emas, sebagai target terwujudnya kesetaraan antara perempuan dan lelaki. Kesetaraan, lanjutnya, adalah bagaimana perempuan dan lelaki sama-sama mendapatkan empat hal, yakni akses, partisipasi, kontrol, dan mendapatkan manfaat.

Sumber: https://www.voaindonesia.com/a/ketidaksetaraan-gender-masih-tinggi-di-indonesia-/5316082.html

Oleh: Widya Pinandini

Realita perempuan masih tertinggal di belakang laki-laki

kesetaraan gender berdampak langsung pada target kesetaraan pembangunan. Ketimpangan gender pun semakin terlihat di masa pandemi covid-19. Perempuan sebagai kelompok rentan yang seharusnya mendapatkan perlindungan, harus menghadapi berbagai tantangan. Seperti, beban sebagai pendidik, pencari nafkah, hingga ancaman kekerasan rumah tangga. Rumitnya perwujudan kesetaraan gender di Indonesia berkaitan dengan timpangnya akses partisipasi kontrol, serta kesempatan memperoleh manfaat antara perempuan dan laki-laki. Salah satunya dipicu nilai patriarki dan konstruksi sosial di masyarakat,”

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/351154/kesetaraan-gender-di-indonesia-masih-rendah

Oleh: Ratna Manik

Membedakan Mainan Anak Laki-laki dan Perempuan

Terkait hal ini, Elizabeth Sweet, seorang sosiologis sekaligus dosen di University of California menyebutkan,

1.membatasi anak bermain ‘berdasarkan gender’ nya justru dapat membatasi kemampuan atau keterampilan mereka.

2. Anak-anak menjadi sulit untuk mengembangkan minat dan bakat karena secara tak langsung dibatasi. Padahal, minat dan bakat mereka bisa dikembangkan secara optimal.

3.  membatasi alat permainan juga menghambat perkembangan kognitif anak-anak, bila dibandingkan dengan alat permainan yang cenderung netral.

4. menghambat aspirasi mereka terhadap karier di kemudian hari.

(Sumber :https://www.orami.co.id/magazine/perlukah-membedakan-mainan-anak-laki-laki-dan-perempuan-ini-kata-ahli/)

Oleh: R. Fitriani N S

Lambatnya kebijakan pemerintah tentang penanganan bias gender saat pandemi

Kebijakan pemerintah akibat pandemi COVID-19,  yang mengharuskan aktivitas keluarga dilakukan dari rumah.telah membuat perempuan rentan mengalami kekerasan akibat beban beban pekerjaan rumah tangga yang berlipat ganda dan berkurangnya pendapatan keluarga yang berkurang sementara pengeluaran bertambah.

Hal ini disebutkan dalam kajian Komnas Perempuan dengan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) yang dirilis pada 16 Oktober 2020.

UN Women juga memperkirakan 82 persen perempuan melakukan pekerjaan informal, dibandingkan dengan 74 persen laki-laki. Kurangnya perlindungan sosial bagi mereka dengan pekerjaan informal semakin meningkatkan kerentanan mereka untuk dipecat dari pekerjaannya selama pandemi.

(sumber: https://tirto.id/bagaimana-kesetaraan-gender-di-ujung-tanduk-saat-pandemi-menerjang-f7b2)

oleh : Yani Mulyani

Sebagian Dimasyarakat masih melekat kuat bahwa perempuan tak seharusnya sering bermain dengan anak laki²

Anak perempuan yang bermain dengan anak laki laki pastinya akan sering bermain mobil² an atau motor² an dan juga permainan lain yang memiliki kecenderungan disukai oleh anak laki². banyak masyarakat yang ikut berkomentar kalau anak perempuan yang seperti itu dikatakan mirip anak laki² dan mereka berkata tidak seharusnya perempuan memainkan permainan yang dimainkan anak laki-laki.

(sumber: pengalaman pribadi member IP bandung saat masih kecil)

Oleh : Sri Sulastri

Sali Saputra – IP Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *