Pendidikan Tinggi Bagi Ibu Rumah Tangga?

Pendidikan Tinggi Bagi Ibu Rumah Tangga?

Ketika Tawaran Karir  Kembali Menghampiri

Akhir bulan januari 2020 kemarin bertemu salah sorang guru saat di SMA, beliau seorang perempuan karir selain berstatus Guru PNS. Beliaupun aktif mengelola sekolah yang beliau dirikan dan saat itu kebetulan beliau guru sejarah yang berlatar belakang sama dengan saya saat ini yaitu Sarjana pendidikan matematika dengan satu almamater juga yakni UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Singkat cerita beliau kembali menawarkan saya untuk bergabung menjadi tenaga pengajar di sekolah yang sedang beliau pimpin. Dahulu pun sempat menawarkan hal serupa saat saya masih aktif mengajar. Sayangnya saat itu jadwal mengajar saya sudah full di 3 instansi sekolah formal., belum lagi jadwal privat dll. Pokoknya terlihat sok sibuk ceritanya.

Memang ya kalau guru matematika katanya selalu dibutuhkan, di cari, di incar, dirindukan wkwkwkw [pede]. Meski secara tida langsung beliau seolah-olah mengarahkan pada ungkapan menyayangkan sarjana pendidikan matematika tapi ga diaplikasikan. Menurut versinya beliau (tidak mengajar di sebuah instansi sekolah atau lembaga pendidikan sebagai mana mestinya), dan memang didapati kabanyakan orang memiliki persepsi seperti tadi. Percuma kuliah mahal-mahal sekolah tinggi-tinggi tapi ujung-ujungnya “cuma” di rumah jadi ibu rumah tangga.

Hmmmm……. Alhamdulilah dulu sih sempat Post Power Syndrome setelah sekian lama berkarir mengajar kurang lebih 9 tahun di lembaga formal. Memiliki penghasilan sendiri lalu tiba-tiba stay tune di rumah saja hadir perasaan paling dikhawatirkan yaitu rasa bersalah pada orang tua yang sempat punya harapan saya jadi PNS sesuai bidang yang saya ambil yaitu guru matematika. Merasa takut mengecewakan mereka karena mereka lah yang membiayai saya kuliah sampai selesai.

Selebihnya saya sudah mantap resign demi amanah suami dan anak yang telah Allah beri.

Saat masa hadir gundah itu Alhamdulilah atas izin dan kasih sayang Allah. Saya dipertemukan komunitas belajar positif untuk para mama dan calon mama (Institut Ibu Profesional). Disana alhamdulilah mulai makin terus tebuka paradigma tambah yakin makin dan bulat bahwa saya telah memilih pilihan yang tepat dengan resign kerja di ranah public.

pendidikan tinggi jadi ibu rumah tangga

pendidikan tinggi bagi wanita

pentingnya pendidikan tinggi bagi wanita

Ditambah saat itu sudah diamanahi 2 orang putri usia 2th dan dalam kandungan 3bln. Sayapun telah yakin sebelumnya bahwa tugas utama atau kewajiban seorang istri dan ibu adalah dirumah ibu adalah madrasah pertama anak, banyak ayat alquran yang menjelaskan peran ibu dan istri seperti salah satunya tidak ada kewajiban bekerja keluar rumah dll.

Namun dengan pemahaman lingkungan sekitar yang seolah-olah seorang sarjana itu lebih bergensi berkarir di luar rumah. Saya pun terkadang hadir perasaan bersalah tersebut, namun kini alhamdulilah sudah tidak ada sama sekali.

Melalui komunitas belajar para ibu dan calon ibu yaitu IIP (Institut Ibu Profesional) memilili misi merubah paradigma seorang ibu rumah tangga yang di persepsikan “tidak kerja”. Padahal itu pun sebuah profesi mulia yang surat tugasnya langgung dari Allah maka dalam menjalani nya mesti menjadi professional seperti apa yang menjadi slogan IIP yang disampaikan ibu septi peni wulandari selaku founder IIP “Be professional Rezeki Will Follow” “Rezeki itu Pasti Kemuliaan yang Harus di cari”.

Maka ketika wanita yang bekerja diranah public memiliki gaji maka seorang ibu rumah tangga yang bekerja di ranah domestic (dirumah saja) pun tetap memiliki rezeki (Allah yang jamin), rezeki tidak sama dengan gaji, tapi gaji adalah sebagian kecil dari rezeki.

Kesimpulanya dalam islam bolehkah wanita bekerja (berkarir) di ranah public? Jawabanya tentu boleh tapi perlu di garis bawahi hukumnya tidak wajib. Lantas apakah wanita yang hanya dirumah berstatus ibu rumah tangga di sebut tidak kerja? Ini yang keliru ketika mendefinisikan kerja itu hanya ketika memiliki profesi selain di ruma. Misal jadi dokter, perawat, guru,PNS dll ibu rumah tangga pun adalah sebuah profesi yang dimana tuntutan sebuah profesi mesti Professional yakni bersungguh-sungguh dalam menjalankanya.

Pentingnya Pendidikan Tinggi Bagi Wanita

Lantas ada celetukan kalau ujung-ujungnya hanya di rumah seharusnya gak usah kuliah tinggi-tinggi. Nah ini pun sangat sangat sangaaaat keliru. Ibu adalah madrasah pertama anak misal : kiranya pasti akan berbeda anak yang di asuh oleh ibu lulusan SD? dengan lulusan sarjana?

Baca juga Cara Mengajar Matematika Anak SD yang Menyenangkan

Contoh saat anak memasuki jenjang SMP bertanya tentang soal matematika yang belum ia mengerti. Jika ibunya seorang sarjana matematika tentunya ia akan lebih paham pengenalan matematika pada tiap tahapan dan tingkatanya. Jadi apakah lantas menjadi sia-sia kuliah sarjana matematikanya? Ini membuktikan bahwa jawabanya sama sekali tidak sia-sia malah sangat bermanfaat.

Kuliah itu bagi seorang perempuan fokus utamanya bukan untuk melamar kerja tapi untuk mendampingi anak agar tumbuh menjadi generasi cerdas berprestasi dan berakhlaq mulia. Kita akan mampu mengimbangi pertumbuhan anak di jaman melenial ini. Tentunya terlahir dari seorang ibu yang cerdas juga pembelajar. Pendidikan tinggi untuk perempuan itu wajib. Karena mendidik seorang perempuan sama dengan mendidik satu generasi, kualitas pendidikan seorang perempuan akan berdampak pada qualitas satu generasi.

Kembali ke penawaran seorang guru tadi. Ketika saya ditawari untuk kembali bekerja di ranah public menjadi guru di lembaga formal jawaban bulat dari hati saya fix “TIDAK”. Jika konsekuensinya harus sering meninggalkan anak. Kan anak bisa di titip di pengasuh?  anak adalah titipan Allah untuk orang tuanya lantas apa pertanggung jawaban nanti jika kita malah menitipkan kembali titipan Allah tersebut? Pendidikan utama Anak adalah tanggung jawab orang tuanya. Teringat kutipan Bunda Ainun Habibie. Beliaupun lulusan kuliah kedokteran dalam perihal mendidik anak beliau memilih tidak bekerja tapi lebih memilih membersamai anak di rumah.

Mengapa saya tidak bekerja? Bukan kah saya dokter? memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan kepada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan beresiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?

Membaca kutipan tersebut saya makin mantap lagi dengan pilihan saya, betul sekali bekerja di ranah public mesti ada alasan yang syari atau dibenarkan oleh Allah, apakah betul sangat perlu? kita harus benar-benar luruskan niat saat kita bekerja di luar rumah.

Contoh kasus berikut ini sangat mungkin ga bisa dihindari yang mengaruskan seorang wanita bekerja dan dibolehkan:

  • Suami sedang sakit dan ga bisa kerja untuk memenuhi kebutuhan
  • berstatus single parent
  • kesepakatan bersama suami karena misalnya ingin segera memenuhi kebutuhan yang sangat urgen dll yang dimana bisa di raih jika keduanya sama-sama bekerja
  • Ingin Mengabdikan ilmu untuk masyarakat dg niat mencari Ridho Allah
  • Berkerja atas dorongan dan izin dari suami

atau apakah kita bekerja hanya beralasan seperti ini :

  • Memenuhi memuaskan tuntutan orang lain misal takut di bilang sarjana nganggur, sarjana ga laku dll
  • Memenuhi kepuasan gaya hidup hedonis (gengsi)

dll padahal sebenarnya nafkah dari suami masih sangat cukup,

  • Bekerja Hanya bentuk ego dan ambisi pribadi

islam pun betul tidak mengharamkan wanita untuk bekerja akan tetapi jangan sampai terjadi dengan alasan sibuk bekerja peran utama sebagai istri dan ibu jadi terlantarkan,contoh berkurangnya kualitas perhatian pada suami dan anak, padahal tugas utama seorang wanita setelah berumah tangga adalah menjadi istri dan ibu yang shaleha.

Ada memang wanita yang lebih bahagia ketika ia bekerja diranah public, tentu tidak ada masalah selagi niatnya benar dan lurus serta paling penting dapat restu dari suami maka lanjutkanlah berkarir dengan catatan tidak mengurangi kualitas kewajiban utama sebagai seorang istri dan seorang ibu di rumah.

Namun ada juga wanita yang kurang bahagia bekerja di ranah public jika konsekuensi nya mesti kehilangan waktu atau berkurangnya waktu kebersamaan dengan anak (contohnya saya sendiri he) maka cukuplah bekerja dari rumah, toh masih banyak sekali peluang kesempatan berkarir memiliki penghasilan mesti dari rumah saja. contohnya berjualan online, membuka usaha rumahan dll bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan si kecil.

Seharusnya memilih bekerja di ranah public dan bekerja di ranah domestic bagi seorang wanita tidak perlu ada perdebatan silahkan saja kembali lagi pada pilihan masing-masing saling support dan dukung apapun yang menjadi pilihan kita haruslah yakin serta paham betul dampak positif negatifnya dari konsekuensi atas pilihan yang kita pilih tersebut. Inti pesan nya seorang wanita setelah berumah tangga yang akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah adalah bagaimana fitrahnya sebagai seorang istri dan seorang ibu itu betul-betul menjalankan peranya sesuai ketentuan Allah.

Berikut ada contoh kisah yang saya ambil dari tulisan seorang trainer muda, motivator, terapis juga penulis buku teh Febrianty Almeera yang beliau share di IG milik pribadinya

Tulisan beliau begitu menyentuh hati berkaitan dengan “Fitrah IBU” dalam tulisan tersebut beliau sharing tentang salah satu temanya yang memutuskan resign kerja padahal ia bekerja di perusahan multinasional, menduduki posisi penting, selaras dengan besarnya gaji aneka tunjangan dan bonus yang cukup membuatnya menjadi jajaran sosialita papan atas.

kemudian ditanya “why, Resign”?

jawabanya: “ kamu tau, saat akau keluar dari perusahaaan ini mereka akan dengan mudah menemukan penggantiku lagi. Tapi di rumah, ada seorang anak kecil yang baginya jika aku tak ada, maka tak aka nada penggantinya sama sekali. Ia hanya punya satu ibu, yaitu aku”

kemudian ditanya lagi : gimana orang terdekatmu yaitu orang tua, mertua menyayangkan gelar S-2mu? Karena lebih memilih membersamai anak mu di rumah?

Jawabanya : “…. Mereka justru harusnya hepi. Hepi karena cucu tercintanya pasti akan diasuh dengan baik di tangan seorang lulusan S-2, Gratis pula coba kalau aku hire babysitter lulusan S-2, Susah. Dan kalaupun dapet mana sanggup bayarnya”

Mendengar ungkapan tersebut saya sangat terharu dan Ketika tawaran karir itu kembali menghampiri saya rasa sangat kuat untuk mengatakan “TIDAK”. akankah ada masanya suatu saat akan say sambut sambut?? jawabanya “MUNGKIN” jika dirasa memiliki nilai kebermanfaat yang cukup tinggi. Akan tetapi saat ini anak saya masih kecil-kecil nilai kebermanfaatan saya lebih mereka butuhkan, saya tidak mau mereka tumbuh besar dalam pengasuhan selain ibunya oleh karena itu saya memilih full menjadi seorang istri dan seorang ibu. Dan yang paling utama dengan pilihan saat ini saya merasa lebih bahagia bisa membersamai tumbuh kembang anak di tiap tahapan perkembangan, tambah lagi dukungan suami tercinta yang lebih mengizinkan untuk berkarir dari dalam rumah.

Gelar sarjanaku adalah untuk anak-anaku, mereka hanya punya satu ibu yaitu aku, masa kecil mereka sangat membutuhkan kehadiran ibunya, masa kecil mereka hanya satu kali dan tidak akan berulang, aku ingin meninggalkan kenangan manis di masa kecil mereka dan mereka tumbuh bahagia dalam pengasuhanku karena itulah tanggung jawabku sebagai seorang ibu.

Kalau ada yang bilang Sarjana kok cuma di rumah? Bilang aja ya gak apa-apa yang penting keluarga ke urus, transferan ke rekening juga jalan terus. ^_^

Sekian sharing saya kali ini semoga bermanfaat untuk teman semua pembaca terutama para ibu dan calon ibu.

Salam hangat

Sali Saputra

^_~